Minggu, 20 Juli 2008

KOMUNIKASI KONTEM.3

klan Komersial dan Etika Pariwara Indonesia

Pembelokkan yang terjadi pada idealisme media saat ini dapat sering kita jumpai pada iklan komersial baik pada media cetak maupun media elektronik. Iklan-iklan komersial saat ini lebih mementingkan keinginan pasar. Padahal jika terus menerus mengikuti keinginan pasar maka tujuan utama iklan komersial itu dibuat pun akan semakin tidak jelas. Iklan komersial yang utama bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat luas agar mereka menggunakan produk atau jasa yang disampaikan dalam iklan tersebut. Iklan komersial pun dibuat seharusnya sesuai dengan etika iklan yang ada, sehingga tidak terjadi pembelokkan tujuan dan manfaat dari iklan itu sendiri, serta tidak terjadi pula pembelokkan idealisme media.
Jika iklan komersial di Indonesia ini dibandingkan dengan etika pariwara Indonesia, maka bisa dikatakan hampir seluruh iklan komersial yang telah tersebar dan tayang tidak sesuai atau melanggar etika pariwara Indonesia. Karena seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, para pembuat iklan atau biro iklan dan produsen saat ini mereka seperti memiliki tujuan utama yang sama, yaitu meraih keuntungan yang besar tanpa menghiraukan peraturan-peraturan yang ada serta memberi perlindungan pada konsumen. Terutama para manager pemasaran atau para pembuat iklan tersebut, mereka mengharapkan iklan yang mereka buat mampu diingat jelas oleh masyarakat luas, baik iklan itu dibuat dengan baik atau buruk, kreatif atau meniru, atau bahkan telah melanggar etika beriklan. Prinsip mereka adalah iklan akan menyerang kesadaran, sehingga jika kesadaran akan suatu produk sudah terbentuk, maka perilaku mengkonsumsi banyak dipengaruhi oleh kesadaran terhadap produk tersebut.
Perkembangan dunia periklanan sekarang ini memang luar biasa. Banyak sekali karya-karya anak negeri, baik di media elektronik maupun media cetak yang membuat kita tercengang, bangga dengan kreativitas mereka. Tapi jika kita mencermati lebih lanjut, dari karya-karya tersebut, masih banyak juga iklan-iklan yang melanggar tata krama dan tata cara periklanan di Indonesia, baik yang disengaja maupun tidak. Jelas terasa adanya tekanan antara etika di satu pihak dan kepentingan bisnis di pihak lain. Kondisi ini sebagian besar akibat masih awamnya para pelaku periklanan maupun masyaraakt sendiri dalam etika beriklan, dan diperparah oleh masih rendahnya tingkat kreativitas dari kebanyakan praktisi periklanan kita, sehingga sering harus mengambil jalan pintas.
Etika pariwara di Indonesia seperti dalam penggunaan bahasa, hak cipta, pencantuman harga, pemberian kata ”gratis” dan lain sebagainya yang sesungguhnya sangat penting dalam penggunaanya dalam iklan ini seolah-olah hanya peraturan tambahan yang boleh digunakan atau tidak menurut si pembuat iklan komersial tersebut. Sehingga kesadaran akan pentingnya untuk mematuhi etika beriklan ini sangat rendah. Padahal jika kesadaran untuk mematuhi etika beriklan saja rendah maka jaminan perlindungan terhadap konsumen pun juga rendah. Yang artinya iklan komersial yang menurut idealnya memberikan perlindungan terhadap konsumen atas informsi yang mereka sampaikan, justru akan bertindak sebaliknya. Seperti contohnya penggunaan kata ”murni”, ”asli”, atau ”100%” harus dapat dibuktikan kebenarannya. Karena seperti anda ketahui bahwa saat ini tidak sedikit praktek manipulasi yang telah dilakukan oleh biro iklan terhadap iklan komersial yang mereka buat.

KOMUNIKASI KONTEM.2

Media Massa dan Permasalahannya

Dewasa ini begitu banyaknya perusahaan yang menawarkan jasa ataupun produk kepada masyarakat. Penawaran ini mereka lakukan dengan berbagai macam cara. Pembuatan iklan melalui media cetak maupun media elektronik, penawaran produk atau jasa melalui sales promotion, penawaran produk atau jasa melalui bentuk komunikasi pemasaran face to face, atau penawaran produk atau jasa yang dilakukan oleh public relations merupakan cara-cara yang biasa dilakukan oleh para produsen tersebut.
Banyaknya perusahaan atau produsen yang ingin mengenalkan jasa atau produknya kepada masyarakat luas membuat mereka saling berlomba-lomba untuk menarik perhatian publiknya agar menggunakan jasa atau produk yang mereka tawarkan. Karena saat ini satu jenis produk atau jasa dapat beraneka ragam macamnya. Kecenderungan untuk menjadi nomer satu agar citra produknya dapat selalu diingat oleh masyarakat luas membuat para produsen menggunakan media untuk mempromosikan jasa atau produknya yang diinginkan oleh publik. Karena para produsen berprinsip semakin dikenal citra produk atau jasa yang mereka buat, semakin banyak masyarakat yang menggunakan produk atau jasanya, maka semakin banyak pula mereka akan meraih keuntungan yang merupakan prestise tersendiri.
Penyampaian informasi tentang produk atau jasa yang dilakukan oleh para informan, dalam hal ini adalah produsen yang berlaku sebagai komunikator menyampaikan berbagai macam informasi sesuai dengan permintaan si penerima pesan, dalam hal ini adalah publik atau konsumen yang bertindak sebagai komunikan, dengan berbagai macam gaya bahasa. Berlomba-lomba dalam menawarkan produk atau jasa seperti yang telah dimaksud terkadang melewati batas etika yang ada, baik etika jurnalistik, etika advertising, maupun etika komunikasi dalam media. Pelanggaran-pelanggaran yang biasanya mereka lupakan justru melewati batas etika yang ada antara lain; kekerasan, manipulasi media, dan pornografi.
Media memiliki idealisme, yaitu memberikan informasi yang benar. Dengan idealisme seperti itu media ingin berperan sebagai sarana yang mampu mendidik agar pemirsa, pembaca, dan pendengar akan semakin memiliki sikap kritis, kemandirian, dan kedalaman berpikir. Akan tetapi realitas sering memiliki arah yang berlawanan. Dalam realitas diwarnai dengan pemaknaan ekonomi yang dapat menghambat idealisme media tersebut. Karena pemberian informasi yang dikehendaki oleh publik akan lebih menguntungkan media tersebut atau media saat ini lebih mengikuti keinginan pasar. Realitas pasar seperti ini menggambarkan bahwa media berada dibawah tekanan ekonomi persaingan yang keras dan kuat.
Tekanan media pada ekonomi memicu media untuk berlomba-lomba menampilkan apa yang disenangi oleh pemirsa, pendengar, atau pembacanya. Kriteria yang disukai ini menjebak media mudah tergoda pada pornografi. Terkait dengan pornografi ini, bukan hanya masalah etika pariwara saja, namun masalah politik dan pendidikan juga ikut dipertaruhkan. Argumen setuju atau tidak setuju tentang pemahaman akan masalah kebebasan berekspresi, hak akan informasi, dan hak untuk memilih pilihan pribadi mewarnai masalah pornografi ini. Jika pemerintah terlalu mengatur dan campur tangan media, maka akan dianggap membatasi ruang lingkup kebebasan media. Tetapi jika tidak dibatasi nilai moral dalam media perlu dipertanyakan; apakah mereka mampu melindungi anak-anak dan para remaja, apakah media-media tersebut merendahkan martabat wanita, dsb.